Munajat Cinta Orang Tua

Seorang siswi kelas 1 sebuah SMA, Dia berminat mengikuti sebuah ekskul disekolahnya. Kelompok ekskul ini belajar menata beragam acara pagelaran dan pementasan, ya.. event organizer (EO) gt lah. Dan sebagai anak baik yang taat pada orang tuanya dia meminta izin terlebih dahulu pada abah dan umi nya untuk dapat mengikuti ekskul tersebut.

Mendengar ajuan putrinya, kedua orang tuanya mengernyitkan dahi. Mereka khawatir, ekskul ini piker mereka, tidak baik bagi putrinya. Pasti akan menyita waktu putrinya, tak mustahil hingga larut malam. Belum lagi risiko pergaulan yang cenderung bebas.

Minat putrinya ini benar – benar diluar kerangka pikir orang tua. Mereka menduga putrinya akan memilih aktif dikegiatan remaja masjid, seperti orang tuanya dulu. Tentu saja orang tuanya tidak setuju akan pilihan putrinya.

Meskipun tahu kalau orang tuanya menolak, siputri tetap mendesak. Dia berusaha meyakinkan orang tuanya. Sebagai orang tua yang bijak, yang menghargai aspirasi anaknya, sekaligus berupaya memahami perubahan zaman, kedua orang tuanyakemudian mempercayai putrinya untuk mengambil keputusan sendiri. Sejalan dorongan hatinya, siputri pun memutuskan untuk mendaftar dan mengikuti ekskul yang ia minati itu.

Kegiatan ekskul sendiri dilaksanakan malam minggu berikutnya. Semua siswa anggota ekskul harus bermalam disuatu tempat dia memohon izin kepada orang tuanya. Keduanya keberatan dan sulit memberikan ijin, terbayang berbagi risiko membahayakan. Namun putrinya terus bersikukuh mendesak, sekali lagi kedua orang tuanya menyerah dan kembali memberikan keputusan kepada putrinya.

Secara kontras, orang tuanya tetap memendam kekhawatiran. Tanggung jawab sebagai orang tua sedang dipertaruhkan. Rasa bijaknya memang memberikan kebebasan, tapi rasa khawatir dan tanggung jawab moralnya sulit ditenangkan. Mereka tak henti bermunajat kepada ALLAH, beristighfar karena telah “mengijinkan” putrinya, memohon perlindungan khusus untuk putrinya.

Seirang berjalan waktu, tibalah hari “H” kegiatan ekskul malam itu, putrinya tidak berkemas,orang tuany mulai bertanya, menjelang magrib putrinya masih tetap dirumah, tidak kunjung berangkat. Ortunya semakin heran campur senang tentunya.

“kenapa tidak berangkat?jadi ekskulnya?” kedua ortunya penasaran.

“tidak jadi” jawab nya.

Ploooooog ces pleeng.. sebuah jawaban yang melapangkan dada orang tua.

“semua siswa tidak mendapat izin dari orang tuanya, Mi”jelas dia pada Uminya. Ternyata, semua orang tua siswa ini sama – sama tidak mengijinkan dan bermunajat kepada-Nya

Itulah salah satu contoh rasa cinta orang tua kepada anaknya. Semuanya akan dilakukan orang tua untuk anak – anak tercinta.

Rasa bersalah pasti terjadi ketika mereka, orang tua, tidak berhasil mengarahkan anaknya untuk bersikap dan memiliki akhlak mulia. Namun , setelah berusaha sekuat tenaga tinggal memasrahkannya ke Ilahi Robbi, dan terus berintrospeksi seperti yang dilakukan Sayyidina Umar r.a.

Sayyidina Umar r.a., setiap hendak pergi tidur bertafakur, mengingat ingat aktivitas yang dilakukan beliau hari tadi. Kala beliau ingat satu kesalahan telah beliau lakukan, beliau pukul – pukul dirinya sebagai penebuas dosa atas perbuatannya. Beliau amat takut  jika mendapat azab ALLAH kelak di akhirat yang lebih pedih dan menyakitkan. Terlebih, kelak tidak akan ada orang yang dapat menolong.

————-

Sudahkah hari ini kita lakukan?? Berat, memang. Hanya orang – orang dalam tingkat keimanan yang paripurna seperti sayyidina Umar r.a. ini yang mampu berlaku demikian. ALLAH akan bukakan pintu hidayah bagi umat-Nya yang senantiasa berusaha untuk mendekat dan merapat kepada-Nya. Tak apa – apa jika langkah kita beringsut, toh kita sebagai manusia yang tak pernah lepas dari khilaf dan dosa, kita bisa tetap berbesar hati.

Ingatkan selalu diri kita dan anak – anak kita agar senantiasa mengurangi dosa dan khilaf. Amat menakjubkan jika kita mampu berlomba – lomba dengan anak  – anak kita dalam melakukan kebaikan. Atau, jangan cemburu bila ternyata anak – anak kita berakhlak lebih baik daripada kita. Justru kita patut bersyukur, anak kita berada dijalur yang seharusnya, dan tentu akan sangat diperhatikan ALLAH.

Istigfar. Kata ini taka sing ditelinga kita. Namun, apakah kita sering mengucapkannya? Sehabis sholat wajib, minimal lima kali dalam sehari kita ucapkan kata ini, dan kita praktikkan dalam tindakan nyata. Yaitu, dalam kehidupan dan keseharian kita.

Kalau istighfar yang kita ucapkan ini tidak kita praktikkan dalam tindakan nyata. Maka, bertobatlah. Tobat itulah yang dimaksudkan dengan istighfar lebih jauh. Bertekad untuk tidak kembali kepada perbuatan dosa, adalah tujuan tobat setelah selesai istighfar kita ucapkan.

Bersama anggota keluarga yang kita sayangi, kita senantiasa beristighfar dari berjuta dosa yang terperi kita lakukan, baik yang tidak disengaja apalagi yang disengaja. Dengan diimami ayah, diikuti oleh ibu, dan anak – anak, bacaan kalimat tayibah ini secara dawam kita lakukan. Bila sudah tertanam dalam hati dan terbiasakan dalam tindakan nyata, tak akan sulit melemahkan hati kita senantiasa agar ingat akan dosa – dosa. Dan yang terpenting, tidak kembali pada dosa itu lagi.

Cermatilah tubuh kita yang sempurna ini! Jari – jari kita dengan bebasnya melakukan gerakan sekehendak hati. Kaki kita kuat untuk berjalan kemanapun yang kita inginkan. Mata yang tajam ini, tak pernah lepas menatap keindahan dunia fana ini. Hidung kita tak terkekang untuk mencium aroma yang mengundang selera. Perut kita, tetap mampu menampung makanan yang enak dan lezat. Namun, tetap sehat dan tak menggunung karena saluran pembuangan tersedia dengan rapi. Dan bayangkanlah, jika salah anggota badab kita, tak berfungsi sebagaimana mestinya, atau tak pernah tersedia sebagai mana mestinya, apa yang akan kita rasakan? Sungguh patut bila kita memuji ALLAH karena kuasaNya yang telah member sejumlah kenikmatan kepada kita.

Kemudian lafalkanlah asma al-husna secara berulang – ulang. Heningkanlah maknanya. Renungkanlah pesan muatannya. Resapkanlah dalam diri kita hingga terdenyut hendak menyandang sifat – sifat istimewanya. Orang tua akan sangat gagah berwibawa lagi bijak bila muatan asma al-husna telah menjadi perhiasan dirinya. Tak mengherankan bila ALLAH menyarankan agar asma al-husna digunakan sebagai panggilan untukNya saat bermunajat dan berdoa

Last but not least, bacaan Al-Quran menjadi kekuatan tersendiri bagi para orang tua dalam mengemban perannya. Dengan bacaan Al-Quran sebagai media munajat, keluarga akan tersa indah dan sejuk seperti halnya Al-Quran yang menyejukkan dan menyenangkan.

” LTFP “

36 thoughts on “Munajat Cinta Orang Tua

  1. Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
    Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
    Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu
    Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

    • emang bener..
      tapi apa dengan seperti diatas orang tua kan selalu menyerhkan keputusannya pada anak?dimana rsa khawatirnya melebihi kekuatan dirinya..??
      dimana dengan bebasnya pergaulan sekarang??
      hanya ALLAH tempat mereka meminta.. dan iktiar dengan cara komunikasi dari hati ke hati dengan putra putri nya..

      “haikh haikh ngemeng opo aq iki.. lawong belum jdi orang tua kok ya sudah sok teu huhuhu”

  2. cinta orang tua emang gak perlu diragukan…
    yang menjadi tantangan adalah bagaimana mewujudkan cinta tanpa membuat anak menjadi manja ya… kadang itu dilema orang tua, gimana supaya gak ‘salah’ mendidik anak…

  3. walaupun anak2 sekarang sudah besar2, namun bunda tetap saja , tiada henti selalu memohon pada Allah swt agar dimudahkan utk membesarkan dan mendidik mereka, agar menjadi anak2 yg sehat, sholeh dan sholehah, tdk terjerumus kemilau dunia.
    Tidak mudah memang, namun tetap yakin, Allah swt pasti menolong hambaNYA yang meminta padaNYA.
    salam

  4. Wah, jadi ingat di jaman agak mudaan dulu pernah membuat orang tua saya khawatir dengan pergi malam tahun baruan di Pasir Putih – Lampung.
    Ya Allah, ampuni saya…
    Terima kasih sudah diberi tulisan pencerahan ini ya🙂

  5. Assalaamu’alaikum.
    Salam kenal dari saya di medan ilmu yang bermakna.
    Begitulah kasih dan cinta orang tua, selalu mahu anak-anaknya bahagia dan mereka sanggup berkorban juga menderita bagi memberi pendidikan yang berguna buat anak mereka.

    mudahan kita menjadi anak yang selalu mengenang jasa.
    tulisan yang menggugah hati dan jiwa.

    Salam dari Sarawak, Malaysia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s