YOUR EYES


Ambigu…
Mungkin itulah yang ku rasakan
saat melihat sinar itu

Ada kolam kedamaian
yang kutemukan di tengah rancah
dunia yang makin membuncah

Ada hangat matahari yang terasa mendekapku
Ditengah dingin hati yang membeku
Ada keindahan nirwana
Yang membuatku terpukau tanpa kedip

Tapi..
Sinar itu juga bagai hutan
belantara tanpa ujung…
Bagai laut tanpa tepi…
Mengurung dan menenggelamkanku di dalamnya

Kini…
Sinar itu menjadi rumahku
Tujuan akhir dalam perjalanan hidupku

 

~ Diana Yanti ~

***

Kehadiran setelah lama vakum langsung berpuisi yang ditampilin hmm… *Plaaakk.. minta maaf kek.. hehehe, vakum kemaren bener2 membekap waktuku hingga gak sempet buat posting 🙂

semoga setelah ini bisa terus posting..

puisi diatas dibuat oleh seseorang kini bener – bener berarti buat hidup…

 

salam

Kamay 🙂

Sesal..


Bergetarku dalam diam

Dalam sesal yang kian mencekam

Dalam kecewanya yang kian menghujam

Dalam rasa tak percaya yang kian menghantam

Nyata menyungkurkanku pada lembah tak bertuan

Semua karena kesalahan

Yang tak seharusnya kulakukan

 

Tersarukku kini dalam luka

Terperih akan tiap tetes matanya

Membenci diri tiada terkata

Semua menyisakan tanya

Mengapa??

Tanpa ada jawab walau sepatah

Semua menyisakan tanda

Inikah saya??

Seonggok sukma kecil hina

 

Hanya seuntai harapan yang kini ada

Bergelanyut pada wajah berparas duka

Berharap semua kan segera sirna

Kembali hanya pada satu kata

“Bersama”

 

Menggapai cinta-Nya tanpa ada lagi kesalahan…

 

*****

Permohonan maafq pada seseorang yang kini berarti dalam hidup..

 

IBU


Pundak itu…
Tunduk merunduk kian bungkuk
Menanggung beban seakan tertekuk
Bongkah semangat pun terbentuk
Tuk terus hadapi hidup
Demi putra putribyang slalu ia dekap peluk

Kaki itu..
Tatih tertatih kian letih
Melangkah perlahan dengan pasti
Tiada lelah tiada letih
Tanpa alas pelaspis kaki
Semua demi putra putri terkasih

Wajah itu…
Tertatap layu kian sayu
Renta wajah kian menyapu
Tiada ragu
bergelut dunia yang tiada lagi lugu
Semua..
kembali tuk putra putri yang ia inginkan maju

Pundak itu
Kaki itu
Wajah itu
Engkaulah ibu..
Dipelataran dunia rapuh
Tak ragu segala doaku terhatur untukmu
Sujudku ditelapakmu
Akan kasih yang curahnya tak terbendung untukku

Ibu..

*****
tulisan diatas teruntuk semua ibu… akan semua kasih yang tiada terukur 🙂

*****
hmm… apa kabar sobat, lama blogku ini terlantar… waktuku bener2 gak dapat berkompromi membelenggu tanpa menyisakan celah *walah bahasamu…
maaf karena baru muncul kembali 🙂

salam ku

Kamay