Cermin Diri


Cermin.. hmm.. apa yang langsung terpikirkan oleh sahabat semua tentang cermin?? cukup ajaib juga gak sih benda pemantul satu ini?? lalu… siapa yang menemukannya tuk pertama kali?? *Plaaaaaak…. (dilempar sandal), walaah… kok ya malah ngebahas sampai ke penemunya segala* hehehe 🙂

Yah… benda satu ini gak asing dalam kehidupan kita (dikenal ramai sebagai sejenis benda yang dapat memantulkan cahaya atau bayang) dan mungkin sudah terpajang menghias salah satu sudut kamar kita, dimana didepannya kita dapat membenah diri dari kekusutan hingga benar – benar telihat rapi dan pantas, bahkan dari hasil bertanya kesana kemari, kekanan kekiri gak pake atas bawah *Ploooook…. (dilempar sepatu kali ini hehe)* ama temen cewek dikantor, mereka bisa betah berlama – lama didepan cermin, membenah ini dan membenah itu.. berhias ini dan berhias itu.. Bener gak sih??? hehehe *piss piss*

Namun dipost ini, gak ingin ngebahas panjang lebar tentang cermin tempat kita berkaca dan membenah diri, namun cermin yang sebenar – benarnya cermin (menurut saya)…

…. Cermin Diri ….

Mungkin kerap dari kita saat didepan cermin hanya sebatas sekedar membenah diri dari apa yang dapat kita lihat tanpa sebuah detail.. dan sambil bergumam.. ” hari dimulai lagi.. Semangat !!!”. Pernah kah kita didepan cermin benar – benar menatap dalam bagaimana wajah, mata dan semua tentang diri kita???

Berawal dari membaca sebuah buku, untuk judulnya saya lupa karena udah lama banget, namun inget betul tulisan ini oleh Abdullah Gymnastiar, saat awal membaca tulisan ini pada bait pertama, sontak diri ini tertohok.. hati rasanya benar – benar tertusuk, bukan belati namun ribuan jarum panas yang tertancap perlahan. rasa seketika beda, tak ada satu pun kata diujung lidah, petak kamar seketika berasa berubah tebing tinggi menjulang menyisakan ruang seraga tempatku meringkuk terdiam. Astaghfirullah.. selamatkan aku.. terbata terlontar!!! dan kembali terdiam…

Sampai sekarang pun penggal – penggal kata itu masih mengisi sudut kepalaku.. dan ini penggalan – penggalan kata yang ku ingat..

 

****

Saat kudatangi sebuah cermin

Tampak sesosok yang sangat lama kukenal dan sering kulihat

Namun aneh, sesungguhnya aku tak mengenal siapa yang kulihat

Tatkala kutatap wajah, hatiku bertanya?

Apakah wajah ini yang kelak bercahaya dan bersinar indah di surga sana?

Ataukah wahah ini yang kan hangus legam dilembah neraka terdalamnya?

Tatkala kutatap mata, nanar aku bertanya?

Mata inikah yang kan menatap penuh kerinduan…

Menatap Allah, menatap Rasulullah dan kekasih2 Allah kelak?

Ataukah mata ini yang kan terbeliak, teburai menatap siksanya?

Wahai mata, apa gerangan yang kau tatap selama ini?

Tatkala kutatap mulut, apakah mulut ini yang kan mendesah penuh kerinduan mengucap Laa Ilaaha Ilallah ?

Ataukah mulut ini yang kan menganga dengan jeritan pilu yang kan mencopot sendi – sendi setiap pendengar?

Wahai mulut, apa gerangan yang tlah kau ucapkan selama ini?

Berapa banyak hati remuk dengan pisau katamu?

Betapa langka Engkau syahdu memohon Allah mengampunimu?

Tatkala kutatap tubuh

Apakah tubuh ini yang kan bersinar, bersuka cita di surga?

Ataukah tubuh ini yang kan tercabik hancur di lembah neraka terdalamnya?

Betapa beda apa yang tampak dicermin dan apa yang tersembunyi

Betapa yang kulihat selama ini hanya topeng

Sedang aku.. hanya seonggok sampah busuk yang terbungkus

Selamatkan aku ya Robb..

****

itu kata – kata yang ku ingat dari tulisan itu… sungguh buat diri ini bercermin.. selamatkan diri ini Ya Robb..

terdiam kembali menyapa.. tak ada yang dapat kukata.

Semoga kita slalu dalam lindungannya..

 

Kini apa yang terpikirkan sahabat saat didepan cermin ???

 

Sb. Gambar : Mbah Google

Munajat Cinta Orang Tua


Seorang siswi kelas 1 sebuah SMA, Dia berminat mengikuti sebuah ekskul disekolahnya. Kelompok ekskul ini belajar menata beragam acara pagelaran dan pementasan, ya.. event organizer (EO) gt lah. Dan sebagai anak baik yang taat pada orang tuanya dia meminta izin terlebih dahulu pada abah dan umi nya untuk dapat mengikuti ekskul tersebut.

Mendengar ajuan putrinya, kedua orang tuanya mengernyitkan dahi. Mereka khawatir, ekskul ini piker mereka, tidak baik bagi putrinya. Pasti akan menyita waktu putrinya, tak mustahil hingga larut malam. Belum lagi risiko pergaulan yang cenderung bebas.

Minat putrinya ini benar – benar diluar kerangka pikir orang tua. Mereka menduga putrinya akan memilih aktif dikegiatan remaja masjid, seperti orang tuanya dulu. Tentu saja orang tuanya tidak setuju akan pilihan putrinya.

Meskipun tahu kalau orang tuanya menolak, siputri tetap mendesak. Dia berusaha meyakinkan orang tuanya. Sebagai orang tua yang bijak, yang menghargai aspirasi anaknya, sekaligus berupaya memahami perubahan zaman, kedua orang tuanyakemudian mempercayai putrinya untuk mengambil keputusan sendiri. Sejalan dorongan hatinya, siputri pun memutuskan untuk mendaftar dan mengikuti ekskul yang ia minati itu.

Kegiatan ekskul sendiri dilaksanakan malam minggu berikutnya. Semua siswa anggota ekskul harus bermalam disuatu tempat dia memohon izin kepada orang tuanya. Keduanya keberatan dan sulit memberikan ijin, terbayang berbagi risiko membahayakan. Namun putrinya terus bersikukuh mendesak, sekali lagi kedua orang tuanya menyerah dan kembali memberikan keputusan kepada putrinya.

Secara kontras, orang tuanya tetap memendam kekhawatiran. Tanggung jawab sebagai orang tua sedang dipertaruhkan. Rasa bijaknya memang memberikan kebebasan, tapi rasa khawatir dan tanggung jawab moralnya sulit ditenangkan. Mereka tak henti bermunajat kepada ALLAH, beristighfar karena telah “mengijinkan” putrinya, memohon perlindungan khusus untuk putrinya.

Seirang berjalan waktu, tibalah hari “H” kegiatan ekskul malam itu, putrinya tidak berkemas,orang tuany mulai bertanya, menjelang magrib putrinya masih tetap dirumah, tidak kunjung berangkat. Ortunya semakin heran campur senang tentunya.

“kenapa tidak berangkat?jadi ekskulnya?” kedua ortunya penasaran.

“tidak jadi” jawab nya.

Ploooooog ces pleeng.. sebuah jawaban yang melapangkan dada orang tua.

“semua siswa tidak mendapat izin dari orang tuanya, Mi”jelas dia pada Uminya. Ternyata, semua orang tua siswa ini sama – sama tidak mengijinkan dan bermunajat kepada-Nya

Itulah salah satu contoh rasa cinta orang tua kepada anaknya. Semuanya akan dilakukan orang tua untuk anak – anak tercinta.

Rasa bersalah pasti terjadi ketika mereka, orang tua, tidak berhasil mengarahkan anaknya untuk bersikap dan memiliki akhlak mulia. Namun , setelah berusaha sekuat tenaga tinggal memasrahkannya ke Ilahi Robbi, dan terus berintrospeksi seperti yang dilakukan Sayyidina Umar r.a.

Sayyidina Umar r.a., setiap hendak pergi tidur bertafakur, mengingat ingat aktivitas yang dilakukan beliau hari tadi. Kala beliau ingat satu kesalahan telah beliau lakukan, beliau pukul – pukul dirinya sebagai penebuas dosa atas perbuatannya. Beliau amat takut  jika mendapat azab ALLAH kelak di akhirat yang lebih pedih dan menyakitkan. Terlebih, kelak tidak akan ada orang yang dapat menolong.

————-

Sudahkah hari ini kita lakukan?? Berat, memang. Hanya orang – orang dalam tingkat keimanan yang paripurna seperti sayyidina Umar r.a. ini yang mampu berlaku demikian. ALLAH akan bukakan pintu hidayah bagi umat-Nya yang senantiasa berusaha untuk mendekat dan merapat kepada-Nya. Tak apa – apa jika langkah kita beringsut, toh kita sebagai manusia yang tak pernah lepas dari khilaf dan dosa, kita bisa tetap berbesar hati.

Ingatkan selalu diri kita dan anak – anak kita agar senantiasa mengurangi dosa dan khilaf. Amat menakjubkan jika kita mampu berlomba – lomba dengan anak  – anak kita dalam melakukan kebaikan. Atau, jangan cemburu bila ternyata anak – anak kita berakhlak lebih baik daripada kita. Justru kita patut bersyukur, anak kita berada dijalur yang seharusnya, dan tentu akan sangat diperhatikan ALLAH.

Istigfar. Kata ini taka sing ditelinga kita. Namun, apakah kita sering mengucapkannya? Sehabis sholat wajib, minimal lima kali dalam sehari kita ucapkan kata ini, dan kita praktikkan dalam tindakan nyata. Yaitu, dalam kehidupan dan keseharian kita.

Kalau istighfar yang kita ucapkan ini tidak kita praktikkan dalam tindakan nyata. Maka, bertobatlah. Tobat itulah yang dimaksudkan dengan istighfar lebih jauh. Bertekad untuk tidak kembali kepada perbuatan dosa, adalah tujuan tobat setelah selesai istighfar kita ucapkan.

Bersama anggota keluarga yang kita sayangi, kita senantiasa beristighfar dari berjuta dosa yang terperi kita lakukan, baik yang tidak disengaja apalagi yang disengaja. Dengan diimami ayah, diikuti oleh ibu, dan anak – anak, bacaan kalimat tayibah ini secara dawam kita lakukan. Bila sudah tertanam dalam hati dan terbiasakan dalam tindakan nyata, tak akan sulit melemahkan hati kita senantiasa agar ingat akan dosa – dosa. Dan yang terpenting, tidak kembali pada dosa itu lagi.

Cermatilah tubuh kita yang sempurna ini! Jari – jari kita dengan bebasnya melakukan gerakan sekehendak hati. Kaki kita kuat untuk berjalan kemanapun yang kita inginkan. Mata yang tajam ini, tak pernah lepas menatap keindahan dunia fana ini. Hidung kita tak terkekang untuk mencium aroma yang mengundang selera. Perut kita, tetap mampu menampung makanan yang enak dan lezat. Namun, tetap sehat dan tak menggunung karena saluran pembuangan tersedia dengan rapi. Dan bayangkanlah, jika salah anggota badab kita, tak berfungsi sebagaimana mestinya, atau tak pernah tersedia sebagai mana mestinya, apa yang akan kita rasakan? Sungguh patut bila kita memuji ALLAH karena kuasaNya yang telah member sejumlah kenikmatan kepada kita.

Kemudian lafalkanlah asma al-husna secara berulang – ulang. Heningkanlah maknanya. Renungkanlah pesan muatannya. Resapkanlah dalam diri kita hingga terdenyut hendak menyandang sifat – sifat istimewanya. Orang tua akan sangat gagah berwibawa lagi bijak bila muatan asma al-husna telah menjadi perhiasan dirinya. Tak mengherankan bila ALLAH menyarankan agar asma al-husna digunakan sebagai panggilan untukNya saat bermunajat dan berdoa

Last but not least, bacaan Al-Quran menjadi kekuatan tersendiri bagi para orang tua dalam mengemban perannya. Dengan bacaan Al-Quran sebagai media munajat, keluarga akan tersa indah dan sejuk seperti halnya Al-Quran yang menyejukkan dan menyenangkan.

” LTFP “

Sebagian Hati yang Berharap..


* postingan ini sekedar penggalan ingatan akan do’a dari acara ceramah agama.. udah lama banget c  cuma masih tersimpan dimemori ingatan.. sebagian kata2nya juga udah banyak tambahan.. semoga berkenan dan bermanfaat amiin.. 🙂

ALLAH Ya Robb
Sebagian hati dibulan ini berharap
Dengan berjuta tanda yang Engkau tebarkan dipelataran bumi ini
Semoga suatu saat ada orang yang menjadi rendah hati
Setelah ia merasa bahwa dialah orang yang paling tinggi

ALLAH Ya Robb
Sebagian hati dibulan ini kembali berharap
Semoga suatu saat kan banyak fakir miskin yang tersantuni
Setelah para pemilik pundi2 harta tergugah hatinya
Sehingga berubah menjadi dermawan dengan segala ikhlas yang tercipta

ALLAH Ya Robb
Sebagian hati dibulan ini lagi2 berharap
Semoga suatu saat kan banyak anak2 yatim
terlantar yang akan kembali mendapatkan belai kasih sayang
Setelah lama mereka tersisihkan oleh kekejaman zaman yang menghadang

ALLAH Ya Robb
Sebagian hati dibulan ini kembali berharap
Semoga suatu saat kan banyak hati yang kian jadi sejuk dan tawadhu’
Setelah ia merasakan betapa nikmatnya sujud dan ruku’

Ya Lathif, Ya Kabir, Ya Samii, Ya Bashir
Semoga banyak diantara hamba2 Mu kini menjadi semakin sadar bahwa dunia ini hanya sementara, sekedar perjalanan hidup, tipu daya dan ujian dari Nya..

Karena Ya Hayyu..
Berilah hamba kemampuan untuk dapat melewati dunia ini dengan selamat dibawah payung ridho Mu

“…………………………..”

Maaf dan Ampunan Nya yang Kuharap


Dipenghujung hari..
dimalam pemilik sunyi..
Dari balik hati berharap
dengan sesungguhnya berharap
Tuhan kan turunkan hujan
digersang taman jiwa letih
Begitu deras hingga hanyutkan
semua perih…

Inilah aku..
insan kecil yang kerap lakukan salah
insan kecil yang kerap tak mau mengalah
dan mungkin tubuh ini pun penuh dosa

Hanya Maaf dan Ampunan Nya yang kudamba dengan penuh harap..

Rindu Akan Kehadirannya..


Tlah lama derap langkah kaki ini berjalan, tertatih hingga seluruh jiwa terasa letih tiada tertahan. Sendiri ku susuri meniti  sepi yang kian selimuti jalanan, dan ku trus berjalan menyusuri lembah2 sunyi tak bertuan. Lantas teriak pada semesta sekeras – kerasnya, meluapkan rasa akan beban jiwa yang tlah lama bersemayam melumut dalam pikiran. Terkadang juga bergumam sendiri, melafalkan kalimat2 yang bahkan tak jelas untuk ku dengar sendiri. Inikah bahwa ku rindu akan kehadirannya??

Berwaktu – waktu kehadirannya slalu kurindu dengan pasti,  betapa pilu hati ketika rindu Sang Kekasih yang tak jua bertemu kembali, hingga di sepanjang waktuku hanya bisa menanti dan trus menanti. Bagai perjalanan air yang trus dan trus mengalir tanpa pernah menemukan muaranya.. bagai menembus kabut tebal, yang tlah cukup lama susuri tak kunjung pula tepian yang yang dapat ku raba.

Terkadang kurasa jika alur kehiupanku ini terlampau jauh mendahului kenyataan, hingga seakan diri ini disekap oleh perjalanan hati dilembah sunyi.. diterjal sunyi inilah kerap kali ku senandungkan baitnya dan kutuliskan catatan2 ku yang memang ku peruntukkan buatnya.. Sang Kekasih Hati. Kurasakan  kian menyayat hati dikeheningan malam hampa, dengan hati terpana kembali ku simak bait demi bait, sekedar tuk membasuh luka… satu hal yang kerap buatku tersenyum sumringah dikeheningan nyata, yah sepertiga malam milikNya yang senantiasa ada untukku, ditiap langkah hariku 🙂

Kembali sinar pagi ini menghampar, menguapkan embun2 yang terbakar teriknya mentari fajar. Hari tlah dimulai kembali, kerinduan hati ini pun kembali menyelinap di hamparan2 problema yang kerap mendera. Kehidupan bagai cakrawala aksara yang takkan pernah habis terbaca..

Kerinduan ini seperti kerinduan hati seorang pencinta, yang begitu susah tuk sampai kemuaranya, merasakan cintaNya.. merasakan rinduNya.. sungguh hati ini tlah dipenuhi rindu..

Jangan ENGKAU Usir Aku…


Allah Ya Robb..

aku tetaplah fakir ketika aku kaya, lalu bagaimana mungkin aku tidak fakir ketika aku memang fakir?

aku merasa tetaplah bodoh ketika aku mulai tahu, lalu bagaimana aku  tidak bodoh ketika aku memang bodoh?

Allah Ya Robb

Jika Engkau tampakkan kebaikan2 ku , maka itu adalah berkat anugrahMu kepada ku,

Sedangkan jika Engkau tampakkan kesalahan – kesalahanku,  maka Engkau memiliki argument atasku

Allah Ya Robb

Bagaimana mungkin aku akan kecewa padahal Engkau datang menujuku?

Bagaimana mungkin Engkau kecewakan segala harapku padahal telah ku gantungkan segala harapku kepada MU

Bagaimana mungkin Engkau tidak memperbaiki keadaan jiwaku padahal hanya dengan pertolonganMu ia akan menjadi baik dan kembali kepadaMU

Allah Ya Robb

Alangkah Engkau ramah kepadaku padahal aku bodoh..

Alangkah Engkau sayang kepaku padahal segala perbuatanku buruk..

Alangkah Engkau  mendekatkan diri kepadaku, padahal sibodoh ini kerap sekali menjauh dariMu

Alangkah Engkau lembut kepadaku..

Lalu apa lagi gerangan yang menghalangi untuk dapat selalu dekat denganMu

Allah Ya Robb

Setiap kali kesalahan – kesalahanku membuatku bisu, maka setiap kali itu pula kurasakan pemuliaanmu menyapaku

Dan setiap kali sifat – sifatku membuatku putus asa, maka setiap itu pula kurasakan anugrahMu membuatku penuh akan harapan – harapan

Allah Ya Robb

Hanya kepadaMu aku meminta pertolongan, maka tolonglah aku..

Hanya kepadaMu aku bertawakkal, maka janganlah Engkau serahkan urusanku kepada selainMu..

Hanya segalanya dari Mu yang aku sukai,  dan hanya didepan pintuMu aku bersimpuh..

Dengan harap, jangan Engkau usir aku Ya ALLAH…

Allah Ya Robb

Aku Ingin Kau Menjemputku Ya Rasulullah… (berlebihankah…??)


Assalamualaikum semua… sehari libur gak postingan rasanya gatel hahay.. betul2 keranjingan ngeblog nie sekarang… padahal dulu saat masih diblog lama gak sampai seperti ini nih… hehehe

Postingan kali ini tentang kisah aja ya.. Insyaallah dan semoga suka…

Kisah ini datang dari disebuah kota kecil di Madura, tentang seorang nenek tua penjual bunga cempaka untuk nafkah sekedar penyambung hidupnya. Ia biasa menjual bunganya dipasar, berjalan kaki langkah demi langkah dengan harapan ia dapat menjual habis seluruh bunganya dan dapat melakukan kegiatan rutinnya dan ini tujuan utamanya. Setelah berjalan kaki cukup jauh, ia sampai juga pada tujuan dan alhamdulillah bunganya pun habis terjual, segala syukur ia panjatkan. Seusai jualan ia pergi ke Masjid Agung dikota itu. Ia berwudhu, masuk Masjid dan melakukan Sholat Dhuhur. Setelah membaca wirid sekadarnya, Ia keluar masjid dan membungkuk – bungkuk di halaman masjid. Yah Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran dihalaman masjid selembar demi selembar dikaisnya, dengan seluruh rasa ikhlas yang ada, tidak satu lembarpun terlewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara seperti itu. Padahal matahari di Madura disiang hari sungguh sangat menyengat, keringatnya pun membasahi seluruh tubuhnya. Tak sedikit pengunjung yang jadi iba padanya.

Pada suatu hari Takmir Masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan yang berceceran dihalaman Masjid itu sebelum perempuan tua itu datang. Pada hari itu, seperti biasa Ia datang dengan ekspresi harapan yang sama dan seusai sholat ketika hendak melakukan kegiatan rutinnya, Ia sangat terkejut karena tidak ada daun satu pun yang terserak disitu. Ia kembali lagi ke masjid dan mempertanyakan pada semua, kenapa daun – daun dihalaman itu sudah disapukan sebelum kedatangannya? orang – orang itu menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. dan sang nenek menjawab dengan nada memohon “Jika kalian kasihan kepadaku, tolong dengan sangat berikanlah padaku untuk dapat membersihkannya..”

Singkat cerita, Sang Nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan seperti biasa hingga bersih. Suatu ketika Seorang Kiai yang terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan tua itu, “Mengapa ia begitu bersemangat sekali membersihkan dedaunan yang terserak dihalaman itu?”

“Saya ini perempuan bodoh Pak Kiai” tuturnya..

“Saya tau amal2 saya yang kecil itu mungkin juga tidak dengan benar saya jalankan. Saya tidak akan selamat pada akhirat nanti tanpa syafaat kanjeng Nabi Muhammag SAW. Jadi, setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu shalawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya udah sampai pada saat menghadapnya, saya ingin kanjeng Nabi Muhammad menjemput saya. Dan biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya..”

Subhanallah.. Adakah qt berpikir seperti nenek itu?? Adakah qt betul2 rindu akan rasul?? Biarlah hati qt yang menjawab…

Kami sayang padamu ya rasulullah

Kami rindu padamu ya rasulullah

Ampuni Kami…


Tak terasa hari – hari yang qt jalani tlah panjang, dan sudahkah disela waktunya qt tersadar..????hehe kali ni postingan ringan2 berat.. boleh dilanjutkan coy..??hahaha

selamat malam saudara2, sahabat, teman .. dan orang2 terkasih yang saat ini ada.. hari berganti hari begitu cepat, tu berarti kian dekat pula pada saat akhir hidup qt.. didunia yang hanya  mampir ini, sudah banyak orang2 yang hidup sebelum kita, yang kini tlah menjadi tulang belulang dimakan tanah.. dan banyak pula orang2 muda yang kini hidup menggantikan qt.. yang lagi antre di didunia kecil nan indah (perut ibu maksudnya, hehe) pun banyak..

kerap gak dalam diri bertanya.. mau kemana qt? mau kamana qt saudaraQ, qt pasti mati… dan harus siap mempertanggung jawabkan apa2 yang telah qt lakukan slama ini.. sebanyak apapun harta yang qt miliki, tak kan bisa menolak kematian qt. sehebat apapun kekuasaan yang qt genggam, tak kan pula bisa menghalau kematian walau hanya sedetik.

( truuuuss apalagi ya.. hadeeehh kenapa jadi blank gini bicarain kematian…??? )

namun intinya sekedar mengingatkan, sudah siapkah qt.. jika sang pemilik hidup ingin bertemu..

Ya Allah ya Robb, jadikan malam ini menjadi malam yang kau sukai… Engkau yang maha tau segalanya apa yang ada dihati kami..

Ya Allah ya Robb, Andaikan bala bencana yang menimpa diri kami, negeri kami, kerena perbuatan maksiat yang kami perbuat, jadikanlah malam ini malam ampunan. Ya Allah ampuni sebusuk apapun diri hambamu ini, ampuni sebanyak apapun dosa yang hambamu ini perbuat, ampuni segelap apapun masa lalu hambamu ini, ampuni senista apapun aib aib yang hambamu sembunyikan selama ini..

Ya Allah ya Robb yang ampunannya melebihi semesta, ampunilah jika selama ini hamba mendustakanMu, meremehkan KeagunganMu, ampuni jika nikmat yang Engkau berikan hamba gunakan untuk berkhianat kepadaMU, ampuni jikalau hamba begitu sombong kepadaMu, ampunilah amal – amal hamba yang amat jarang itu, ampuni Sholat hamba yang hampir tiada khusyuk, Ampuni sedekah hamba yang amat kikir, ya Allah. ampuni maksiat laten yang tlah diperbuat oleh mata ini, ampuni kedustaan yang terucap dari mulut ini, Ampuni kezaliman hamba kepada orang tua hamba, Engkau yang maha tau luka dihatinya…

buat kami ringan dari segala dosa yang melekat..

ampuni hamba ya Robb..