Kembali Dalam Tanya


Memejam..

Setiap kali raga menyapa
Setiap kali itu raga bertanya akan keikhlasan

Kini..
Disudut ruang itu
Dia berbaring lemah bersembab mata
Menahan..
Bergelut dengan kerontakan yang mengguncang
Dan Raga tak tahan menatap
Ingin raga meminta lemahnya
Namum tak kunjung terasa

Apa ini konsekwensi..
dari sebuah tanya akan keihklasan
atau…
Sebuah jawaban dari setiap sapa ?
“ Sejauh mana kau akan ikhlas “
Seketika membuat raga tertunduk

Kini apa yang kan dilakukan raga tuk dia..

Haruskah raga menyerah..
Tak lagi bertanya akan keikhlasan

Mengharap dia kembali bugar
Tak lagi sembab membingkai mata
Kembali senyum membingkai wajah
Kembali kuat mengemban sisa bulan dari cinta

Raga..
Kembali Dalam Tanya..

Iklan

Cermin Diri


Cermin.. hmm.. apa yang langsung terpikirkan oleh sahabat semua tentang cermin?? cukup ajaib juga gak sih benda pemantul satu ini?? lalu… siapa yang menemukannya tuk pertama kali?? *Plaaaaaak…. (dilempar sandal), walaah… kok ya malah ngebahas sampai ke penemunya segala* hehehe 🙂

Yah… benda satu ini gak asing dalam kehidupan kita (dikenal ramai sebagai sejenis benda yang dapat memantulkan cahaya atau bayang) dan mungkin sudah terpajang menghias salah satu sudut kamar kita, dimana didepannya kita dapat membenah diri dari kekusutan hingga benar – benar telihat rapi dan pantas, bahkan dari hasil bertanya kesana kemari, kekanan kekiri gak pake atas bawah *Ploooook…. (dilempar sepatu kali ini hehe)* ama temen cewek dikantor, mereka bisa betah berlama – lama didepan cermin, membenah ini dan membenah itu.. berhias ini dan berhias itu.. Bener gak sih??? hehehe *piss piss*

Namun dipost ini, gak ingin ngebahas panjang lebar tentang cermin tempat kita berkaca dan membenah diri, namun cermin yang sebenar – benarnya cermin (menurut saya)…

…. Cermin Diri ….

Mungkin kerap dari kita saat didepan cermin hanya sebatas sekedar membenah diri dari apa yang dapat kita lihat tanpa sebuah detail.. dan sambil bergumam.. ” hari dimulai lagi.. Semangat !!!”. Pernah kah kita didepan cermin benar – benar menatap dalam bagaimana wajah, mata dan semua tentang diri kita???

Berawal dari membaca sebuah buku, untuk judulnya saya lupa karena udah lama banget, namun inget betul tulisan ini oleh Abdullah Gymnastiar, saat awal membaca tulisan ini pada bait pertama, sontak diri ini tertohok.. hati rasanya benar – benar tertusuk, bukan belati namun ribuan jarum panas yang tertancap perlahan. rasa seketika beda, tak ada satu pun kata diujung lidah, petak kamar seketika berasa berubah tebing tinggi menjulang menyisakan ruang seraga tempatku meringkuk terdiam. Astaghfirullah.. selamatkan aku.. terbata terlontar!!! dan kembali terdiam…

Sampai sekarang pun penggal – penggal kata itu masih mengisi sudut kepalaku.. dan ini penggalan – penggalan kata yang ku ingat..

 

****

Saat kudatangi sebuah cermin

Tampak sesosok yang sangat lama kukenal dan sering kulihat

Namun aneh, sesungguhnya aku tak mengenal siapa yang kulihat

Tatkala kutatap wajah, hatiku bertanya?

Apakah wajah ini yang kelak bercahaya dan bersinar indah di surga sana?

Ataukah wahah ini yang kan hangus legam dilembah neraka terdalamnya?

Tatkala kutatap mata, nanar aku bertanya?

Mata inikah yang kan menatap penuh kerinduan…

Menatap Allah, menatap Rasulullah dan kekasih2 Allah kelak?

Ataukah mata ini yang kan terbeliak, teburai menatap siksanya?

Wahai mata, apa gerangan yang kau tatap selama ini?

Tatkala kutatap mulut, apakah mulut ini yang kan mendesah penuh kerinduan mengucap Laa Ilaaha Ilallah ?

Ataukah mulut ini yang kan menganga dengan jeritan pilu yang kan mencopot sendi – sendi setiap pendengar?

Wahai mulut, apa gerangan yang tlah kau ucapkan selama ini?

Berapa banyak hati remuk dengan pisau katamu?

Betapa langka Engkau syahdu memohon Allah mengampunimu?

Tatkala kutatap tubuh

Apakah tubuh ini yang kan bersinar, bersuka cita di surga?

Ataukah tubuh ini yang kan tercabik hancur di lembah neraka terdalamnya?

Betapa beda apa yang tampak dicermin dan apa yang tersembunyi

Betapa yang kulihat selama ini hanya topeng

Sedang aku.. hanya seonggok sampah busuk yang terbungkus

Selamatkan aku ya Robb..

****

itu kata – kata yang ku ingat dari tulisan itu… sungguh buat diri ini bercermin.. selamatkan diri ini Ya Robb..

terdiam kembali menyapa.. tak ada yang dapat kukata.

Semoga kita slalu dalam lindungannya..

 

Kini apa yang terpikirkan sahabat saat didepan cermin ???

 

Sb. Gambar : Mbah Google

Wujudkan Bersatu Menuju Kukuh, INDONESIAKU..


” …Ada satu yang hilang dari negeriku, tak seperti dahulu saling bersatu… “

~ Indonesia Unite – Rindu Bersatu ~

 

Melihat miris nya berita tentang bangsa dilayar televisi sekarang, mungkin penggalan liric diatas benar adanya.. bangsa kita tak seperti dahulu, tak saling bersatu yang kini terdengar hanya bentrok dimana – dimana dan yang paling membuat tersayat pertentangan itu antar sesama kita.. kurasa negeri ini menangis dengan keadaan sekarang.. bukan semata hanya karena koruptor yang kian meraja dan menggerogoti sendi – sendi rakyat kita, namun karena kita krisis akan kata BERSATU…

DAMAI, kapan kah kau kembali??

Negeri ini tlah rindu dengan segala perbedaan yang membuat kita kaya dan satu, bukan tuk membuat kita rapuh.. karena semua hanya kita yang mampu tuk kembali wujudkan itu..

mari kita Wujudkan Bersatu Menuju Kukuh, INDONESIA KU….

 

 

~ kita itu satu ~

indonesia bersatu

*foto : kamay editing

 

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Iklan Indonesia Bersatu di BlogCamp


 

 

WASIOR PAPUA


 

~ wasior papua luluh lantah ~

~ wasior papua luluh lantah ~

 

Wasior Papua kini dirundung duka

Wasior Papua kini penuh tangis meraja

Wasior Papua kini teteskan air mata

Wasior Papua kini meratap merana

Wasior Papua kini bau menyengat mayat merata

Wasior Papua kini luluh lantah

Banyak nyawa hilang seketika

Keluarga terpisah entah dimana

Tangis bayi membahana menyayat rasa

Karena air tak bermata

Karena gelondong kayu terserak terbawa

Telah binasakan apa yang ada

Lantas siapa yang kan disalah…???

Dia Kah?

Alam Kah?

Atau Kita Kah?

Yah…

Kita yang salah..

Alam telah marah

Karena kita terlalu serakah

Alam telah tunjukkan murka

Karena kita hanya beratkan keuntungan semata

Akankah selamanya

Hal sama terulang tanpa telaah

Akankah selamanya

Kita kehilangan ramah pada alam pemberian Nya

Saatnya kita berubah

Pada apa yang telah terlimpah

Dari Nya

Pada kita

Pada kelak anak cucu kita

Sekali lagi..

Terhaturkan doa tulus harapan jiwa..

foto : abdul muin ( http://foto.vivanews.com/ )

Munajat Cinta Orang Tua


Seorang siswi kelas 1 sebuah SMA, Dia berminat mengikuti sebuah ekskul disekolahnya. Kelompok ekskul ini belajar menata beragam acara pagelaran dan pementasan, ya.. event organizer (EO) gt lah. Dan sebagai anak baik yang taat pada orang tuanya dia meminta izin terlebih dahulu pada abah dan umi nya untuk dapat mengikuti ekskul tersebut.

Mendengar ajuan putrinya, kedua orang tuanya mengernyitkan dahi. Mereka khawatir, ekskul ini piker mereka, tidak baik bagi putrinya. Pasti akan menyita waktu putrinya, tak mustahil hingga larut malam. Belum lagi risiko pergaulan yang cenderung bebas.

Minat putrinya ini benar – benar diluar kerangka pikir orang tua. Mereka menduga putrinya akan memilih aktif dikegiatan remaja masjid, seperti orang tuanya dulu. Tentu saja orang tuanya tidak setuju akan pilihan putrinya.

Meskipun tahu kalau orang tuanya menolak, siputri tetap mendesak. Dia berusaha meyakinkan orang tuanya. Sebagai orang tua yang bijak, yang menghargai aspirasi anaknya, sekaligus berupaya memahami perubahan zaman, kedua orang tuanyakemudian mempercayai putrinya untuk mengambil keputusan sendiri. Sejalan dorongan hatinya, siputri pun memutuskan untuk mendaftar dan mengikuti ekskul yang ia minati itu.

Kegiatan ekskul sendiri dilaksanakan malam minggu berikutnya. Semua siswa anggota ekskul harus bermalam disuatu tempat dia memohon izin kepada orang tuanya. Keduanya keberatan dan sulit memberikan ijin, terbayang berbagi risiko membahayakan. Namun putrinya terus bersikukuh mendesak, sekali lagi kedua orang tuanya menyerah dan kembali memberikan keputusan kepada putrinya.

Secara kontras, orang tuanya tetap memendam kekhawatiran. Tanggung jawab sebagai orang tua sedang dipertaruhkan. Rasa bijaknya memang memberikan kebebasan, tapi rasa khawatir dan tanggung jawab moralnya sulit ditenangkan. Mereka tak henti bermunajat kepada ALLAH, beristighfar karena telah “mengijinkan” putrinya, memohon perlindungan khusus untuk putrinya.

Seirang berjalan waktu, tibalah hari “H” kegiatan ekskul malam itu, putrinya tidak berkemas,orang tuany mulai bertanya, menjelang magrib putrinya masih tetap dirumah, tidak kunjung berangkat. Ortunya semakin heran campur senang tentunya.

“kenapa tidak berangkat?jadi ekskulnya?” kedua ortunya penasaran.

“tidak jadi” jawab nya.

Ploooooog ces pleeng.. sebuah jawaban yang melapangkan dada orang tua.

“semua siswa tidak mendapat izin dari orang tuanya, Mi”jelas dia pada Uminya. Ternyata, semua orang tua siswa ini sama – sama tidak mengijinkan dan bermunajat kepada-Nya

Itulah salah satu contoh rasa cinta orang tua kepada anaknya. Semuanya akan dilakukan orang tua untuk anak – anak tercinta.

Rasa bersalah pasti terjadi ketika mereka, orang tua, tidak berhasil mengarahkan anaknya untuk bersikap dan memiliki akhlak mulia. Namun , setelah berusaha sekuat tenaga tinggal memasrahkannya ke Ilahi Robbi, dan terus berintrospeksi seperti yang dilakukan Sayyidina Umar r.a.

Sayyidina Umar r.a., setiap hendak pergi tidur bertafakur, mengingat ingat aktivitas yang dilakukan beliau hari tadi. Kala beliau ingat satu kesalahan telah beliau lakukan, beliau pukul – pukul dirinya sebagai penebuas dosa atas perbuatannya. Beliau amat takut  jika mendapat azab ALLAH kelak di akhirat yang lebih pedih dan menyakitkan. Terlebih, kelak tidak akan ada orang yang dapat menolong.

————-

Sudahkah hari ini kita lakukan?? Berat, memang. Hanya orang – orang dalam tingkat keimanan yang paripurna seperti sayyidina Umar r.a. ini yang mampu berlaku demikian. ALLAH akan bukakan pintu hidayah bagi umat-Nya yang senantiasa berusaha untuk mendekat dan merapat kepada-Nya. Tak apa – apa jika langkah kita beringsut, toh kita sebagai manusia yang tak pernah lepas dari khilaf dan dosa, kita bisa tetap berbesar hati.

Ingatkan selalu diri kita dan anak – anak kita agar senantiasa mengurangi dosa dan khilaf. Amat menakjubkan jika kita mampu berlomba – lomba dengan anak  – anak kita dalam melakukan kebaikan. Atau, jangan cemburu bila ternyata anak – anak kita berakhlak lebih baik daripada kita. Justru kita patut bersyukur, anak kita berada dijalur yang seharusnya, dan tentu akan sangat diperhatikan ALLAH.

Istigfar. Kata ini taka sing ditelinga kita. Namun, apakah kita sering mengucapkannya? Sehabis sholat wajib, minimal lima kali dalam sehari kita ucapkan kata ini, dan kita praktikkan dalam tindakan nyata. Yaitu, dalam kehidupan dan keseharian kita.

Kalau istighfar yang kita ucapkan ini tidak kita praktikkan dalam tindakan nyata. Maka, bertobatlah. Tobat itulah yang dimaksudkan dengan istighfar lebih jauh. Bertekad untuk tidak kembali kepada perbuatan dosa, adalah tujuan tobat setelah selesai istighfar kita ucapkan.

Bersama anggota keluarga yang kita sayangi, kita senantiasa beristighfar dari berjuta dosa yang terperi kita lakukan, baik yang tidak disengaja apalagi yang disengaja. Dengan diimami ayah, diikuti oleh ibu, dan anak – anak, bacaan kalimat tayibah ini secara dawam kita lakukan. Bila sudah tertanam dalam hati dan terbiasakan dalam tindakan nyata, tak akan sulit melemahkan hati kita senantiasa agar ingat akan dosa – dosa. Dan yang terpenting, tidak kembali pada dosa itu lagi.

Cermatilah tubuh kita yang sempurna ini! Jari – jari kita dengan bebasnya melakukan gerakan sekehendak hati. Kaki kita kuat untuk berjalan kemanapun yang kita inginkan. Mata yang tajam ini, tak pernah lepas menatap keindahan dunia fana ini. Hidung kita tak terkekang untuk mencium aroma yang mengundang selera. Perut kita, tetap mampu menampung makanan yang enak dan lezat. Namun, tetap sehat dan tak menggunung karena saluran pembuangan tersedia dengan rapi. Dan bayangkanlah, jika salah anggota badab kita, tak berfungsi sebagaimana mestinya, atau tak pernah tersedia sebagai mana mestinya, apa yang akan kita rasakan? Sungguh patut bila kita memuji ALLAH karena kuasaNya yang telah member sejumlah kenikmatan kepada kita.

Kemudian lafalkanlah asma al-husna secara berulang – ulang. Heningkanlah maknanya. Renungkanlah pesan muatannya. Resapkanlah dalam diri kita hingga terdenyut hendak menyandang sifat – sifat istimewanya. Orang tua akan sangat gagah berwibawa lagi bijak bila muatan asma al-husna telah menjadi perhiasan dirinya. Tak mengherankan bila ALLAH menyarankan agar asma al-husna digunakan sebagai panggilan untukNya saat bermunajat dan berdoa

Last but not least, bacaan Al-Quran menjadi kekuatan tersendiri bagi para orang tua dalam mengemban perannya. Dengan bacaan Al-Quran sebagai media munajat, keluarga akan tersa indah dan sejuk seperti halnya Al-Quran yang menyejukkan dan menyenangkan.

” LTFP “

Sebagian Hati yang Berharap..


* postingan ini sekedar penggalan ingatan akan do’a dari acara ceramah agama.. udah lama banget c  cuma masih tersimpan dimemori ingatan.. sebagian kata2nya juga udah banyak tambahan.. semoga berkenan dan bermanfaat amiin.. 🙂

ALLAH Ya Robb
Sebagian hati dibulan ini berharap
Dengan berjuta tanda yang Engkau tebarkan dipelataran bumi ini
Semoga suatu saat ada orang yang menjadi rendah hati
Setelah ia merasa bahwa dialah orang yang paling tinggi

ALLAH Ya Robb
Sebagian hati dibulan ini kembali berharap
Semoga suatu saat kan banyak fakir miskin yang tersantuni
Setelah para pemilik pundi2 harta tergugah hatinya
Sehingga berubah menjadi dermawan dengan segala ikhlas yang tercipta

ALLAH Ya Robb
Sebagian hati dibulan ini lagi2 berharap
Semoga suatu saat kan banyak anak2 yatim
terlantar yang akan kembali mendapatkan belai kasih sayang
Setelah lama mereka tersisihkan oleh kekejaman zaman yang menghadang

ALLAH Ya Robb
Sebagian hati dibulan ini kembali berharap
Semoga suatu saat kan banyak hati yang kian jadi sejuk dan tawadhu’
Setelah ia merasakan betapa nikmatnya sujud dan ruku’

Ya Lathif, Ya Kabir, Ya Samii, Ya Bashir
Semoga banyak diantara hamba2 Mu kini menjadi semakin sadar bahwa dunia ini hanya sementara, sekedar perjalanan hidup, tipu daya dan ujian dari Nya..

Karena Ya Hayyu..
Berilah hamba kemampuan untuk dapat melewati dunia ini dengan selamat dibawah payung ridho Mu

“…………………………..”

Maaf dan Ampunan Nya yang Kuharap


Dipenghujung hari..
dimalam pemilik sunyi..
Dari balik hati berharap
dengan sesungguhnya berharap
Tuhan kan turunkan hujan
digersang taman jiwa letih
Begitu deras hingga hanyutkan
semua perih…

Inilah aku..
insan kecil yang kerap lakukan salah
insan kecil yang kerap tak mau mengalah
dan mungkin tubuh ini pun penuh dosa

Hanya Maaf dan Ampunan Nya yang kudamba dengan penuh harap..

Indah Namamu..


Indah Namamu..
Buat ku berlabuh dibulan baru
didetak degup hati tak menentu
Membaur dalam jiwa bertabur rindu
Setelah sebelas bulan berlalu
Akan dosa dan salah yang terus berlaku
Membalut dekap erat tubuh
Tenggelam dalam nikmatnya waktu
Cerminku insan berhati batu kala itu

Indah Namamu..
dalam sandaran jiwa teguh

Indah Namamu..
dalam lambaian hati para perindu

Indah Namamu..
dikesejukan cinta yang menyatu

…RAMADHAN…

Tlah ku nanti hadirmu
Buatlah aku jadi insan pemilik hati yang kian sejuk dan tawadhu
setelah merasakan nikmatnya ruku’ dan sujud di bulanmu..

Selamat berpuasa buat sahabat – sahabat.. mohon maaf jika KaMay penuh salah dalam kata.. maupun lainnya..

Rindu Akan Kehadirannya..


Tlah lama derap langkah kaki ini berjalan, tertatih hingga seluruh jiwa terasa letih tiada tertahan. Sendiri ku susuri meniti  sepi yang kian selimuti jalanan, dan ku trus berjalan menyusuri lembah2 sunyi tak bertuan. Lantas teriak pada semesta sekeras – kerasnya, meluapkan rasa akan beban jiwa yang tlah lama bersemayam melumut dalam pikiran. Terkadang juga bergumam sendiri, melafalkan kalimat2 yang bahkan tak jelas untuk ku dengar sendiri. Inikah bahwa ku rindu akan kehadirannya??

Berwaktu – waktu kehadirannya slalu kurindu dengan pasti,  betapa pilu hati ketika rindu Sang Kekasih yang tak jua bertemu kembali, hingga di sepanjang waktuku hanya bisa menanti dan trus menanti. Bagai perjalanan air yang trus dan trus mengalir tanpa pernah menemukan muaranya.. bagai menembus kabut tebal, yang tlah cukup lama susuri tak kunjung pula tepian yang yang dapat ku raba.

Terkadang kurasa jika alur kehiupanku ini terlampau jauh mendahului kenyataan, hingga seakan diri ini disekap oleh perjalanan hati dilembah sunyi.. diterjal sunyi inilah kerap kali ku senandungkan baitnya dan kutuliskan catatan2 ku yang memang ku peruntukkan buatnya.. Sang Kekasih Hati. Kurasakan  kian menyayat hati dikeheningan malam hampa, dengan hati terpana kembali ku simak bait demi bait, sekedar tuk membasuh luka… satu hal yang kerap buatku tersenyum sumringah dikeheningan nyata, yah sepertiga malam milikNya yang senantiasa ada untukku, ditiap langkah hariku 🙂

Kembali sinar pagi ini menghampar, menguapkan embun2 yang terbakar teriknya mentari fajar. Hari tlah dimulai kembali, kerinduan hati ini pun kembali menyelinap di hamparan2 problema yang kerap mendera. Kehidupan bagai cakrawala aksara yang takkan pernah habis terbaca..

Kerinduan ini seperti kerinduan hati seorang pencinta, yang begitu susah tuk sampai kemuaranya, merasakan cintaNya.. merasakan rinduNya.. sungguh hati ini tlah dipenuhi rindu..