Kembali Dalam Tanya


Memejam..

Setiap kali raga menyapa
Setiap kali itu raga bertanya akan keikhlasan

Kini..
Disudut ruang itu
Dia berbaring lemah bersembab mata
Menahan..
Bergelut dengan kerontakan yang mengguncang
Dan Raga tak tahan menatap
Ingin raga meminta lemahnya
Namum tak kunjung terasa

Apa ini konsekwensi..
dari sebuah tanya akan keihklasan
atau…
Sebuah jawaban dari setiap sapa ?
“ Sejauh mana kau akan ikhlas “
Seketika membuat raga tertunduk

Kini apa yang kan dilakukan raga tuk dia..

Haruskah raga menyerah..
Tak lagi bertanya akan keikhlasan

Mengharap dia kembali bugar
Tak lagi sembab membingkai mata
Kembali senyum membingkai wajah
Kembali kuat mengemban sisa bulan dari cinta

Raga..
Kembali Dalam Tanya..

Iklan

YOUR EYES


Ambigu…
Mungkin itulah yang ku rasakan
saat melihat sinar itu

Ada kolam kedamaian
yang kutemukan di tengah rancah
dunia yang makin membuncah

Ada hangat matahari yang terasa mendekapku
Ditengah dingin hati yang membeku
Ada keindahan nirwana
Yang membuatku terpukau tanpa kedip

Tapi..
Sinar itu juga bagai hutan
belantara tanpa ujung…
Bagai laut tanpa tepi…
Mengurung dan menenggelamkanku di dalamnya

Kini…
Sinar itu menjadi rumahku
Tujuan akhir dalam perjalanan hidupku

 

~ Diana Yanti ~

***

Kehadiran setelah lama vakum langsung berpuisi yang ditampilin hmm… *Plaaakk.. minta maaf kek.. hehehe, vakum kemaren bener2 membekap waktuku hingga gak sempet buat posting 🙂

semoga setelah ini bisa terus posting..

puisi diatas dibuat oleh seseorang kini bener – bener berarti buat hidup…

 

salam

Kamay 🙂

Bisikan Itu


Tulisan kali ini kiriman seorang sahabat Prima WKH yang khusus ia tulis teruntuk sosok tua yang ia bangga dan rindukan, menceritakan tentang mbah putri dan saat – saat terkahirnya..
****
Tangan itu tua dan sibuk di peraduannya
Mengepul, tanda pagi telah tiba
Langkah pelan menuju ke peraduan lainnya
Ikhlas dalam dharma dan percaya
Seribu dua ribu itu bermandi rasa syukur
Seribu dua ribu itu penghibur lara hati
Menyejukkan terik matahari sepi
Melembutkan angin debu beradu
Setahun yang lalu kekasihnya tak kembali
Ia lupa rasanya menjadi sepi
Setahun yang lalu pemuda itu kembali
Memeluknya erat, tanpa kata-kata
Aku masih kuat sepertimu
Aku tiada keluh dalam hari-hari
Ia tidak berubah
Keriput itu masih sama
Mata itu masih sama
Yang satu sudah kelam tak bernyawa
Berbisik ditelingaku pilu
bahwa Ia melihatku bangga
Aku berbisik jangan katakan itu
katakan aku akan kembali
Gunung dan lembah luas di antara kita
Siang yang tidak pernah aku lupa
Aku bisikkan padamu
Janganlah melihat kepadanya
Tangan-tangan cahaya yang lembut dan harum
Aku disini , mendengar air matamu
Di sisi telingamu yang masih berdetak
Aku masih kuat sepertimu
dan aku mengerti
***
Teruntuk Supiani, wanita yang memberikan nama kepadaku.
ditulis oleh Prima WKH
****
buat Prima, kuucapkan banyak terima kasih karena dah jadi penulis tamu di blogku.. sungguh tulisanmu mengingatkanku pada beliau..
Menoreh satu dua kata q coba
Sambut goresanmu mengawali rasa
Izinkanku tuk dapat leburkannya
****
Malam ramah tak terjamah
Heningpun seakan beraroma
Bersahut salam dingin menyapa
Berdenyut nadi ke ujung gemigil kata
Hantarkanku mengingat semua
Penggal – penggal cerita
dipilar kisah akannya
Sosok tua ramah dengan senyum iklasnya
Sosok tua yang selalu buatmu bangga
Sosok tua yang buatmu kuat jalani masa
Sosok tua yang tak terlupa
Bagimu
Bagi kita
Bagi semua

 

Tak banyak jumpaku dengannya
Namun cukup buatku berucap bangga
menyebutnya “mbah” dikala jumpa

salamku untuknya
do’aku haturkan padanya
disana…
disisi Sang Pemilik Cinta

***
Teruntuk Prima dan Mbah Putri 🙂
Kamay
****
"Mahasuci Allah Yang di dalam genggaman
     kekuasaan-Nya seluruh kerajaan, dan Dia Mahakuasa
     atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan
     hidup untuk menguji kamu siapakah di antara kamu
     yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya Dia
     Mahamulia lagi Maha Pengampun"
(QS Al-Mulk [67]:1-2)
"Sesungguhnya akhirat itu lebih baik untukmu daripada dunia"
(QS Al-Dhuha [93]: 4)

Akhir Tentang DIA


Waktu kali ini membungkamku tuk bersuara

Menghujam dalam rasa

Menenggelamkanku dalam kubangannya

Menekankan jiwa akan kata yang lamat nyata menyanyat

tak terharap…

” Aku yang salah ”

” Aku yang salah ”

” Aku yang salah ”

Tertanam jelas tanpa penghalang mengapa

Tak dapat lagi berkata

Hanya raga rendah tanpa peka yang tersisa

Inikah akhirnya…

Semua harapan semua asa

Terlepas tanpa kembali merenda

Inikah akhirnya…

Tentang DIA pada jendela wajah kanvasmaya

Pada hati pada rasa

yang masih penuh akan kata harap

 

Maaf…

Hanya ini yang dapat kuhaturkan

dari pelataran kesalahan

 

Maaf.. Maaf.. Maaf..

Selamat Pagi Cinta


Selamat Pagi Cinta

Guguran bayu semalam masih membasah buana

Seperti raga

Memberi rasa beda

Di pagi awal cerita

Indah…

Membuatku sekejap terlena

Membayangmu dalam kata

 

Selamat Pagi Cinta

Sudahkah dalam kebeningannya

Embun menyapa..,

Sudahkah dalam merdunya

Pipit mungil bersalam penuh irama

Sudahkah dalam suryanya

Mentari haturkan hangatnya

Menyambutmu dengan hari penuh ramah

Bertabur cinta..

Di kota harapan beribu bunga

 

Selamat Pagi Cinta

Ku kan selalu ada

Tiap awal engkau membuka mata

Karena engkau hal terindah yang pernah ada

Bagai kata dengan awal yang sempurna

 

tulisan sederhana ini terhadirkan dari 2 buah pemikiran KaMay dan Sahabat “Miedy”

dari KaMay teruntuk D.I.A *tentunya*

dari Miedy teruntuk KangMasnya Dwi 🙂

 

Selamat Pagi Cinta

Guguran bayu semalam masih membasah buana

Seperti raga

Membawa rasa beda

Di pagi awal cerita

Indah…

Membuatku sekejap terlena

Membayangmu dalam kata

Kau Yang Tak Tersentuh


Kau yang tak tersentuh

Hanya bayangku dalam semu

Hanya diamku dalam ragu

Menggumam mengingat indahmu terpaku

 

Kau yang tak tersentuh

Rasaku membisu kelabu

Seketika pun membiru terjernih sang bayu

Penuh harap akanmu

Yang tersemat dicakrawala waktu

 

Kau yang tak tersentuh

Diladang kata tentangmu

Tertiba lidahku keluh

Ketika sebut namamu terburu

Seketika beda tanpa rapuh

Tanpa keluh yang terlalu

Saat tersebut dengan segala indahmu

Buatku rindu dengan segalanya waktu itu

 

Kau Yang Tak Tersentuh…

 

~ Teruntuk DIA yang kurasakan kian jauh ~

 

Kaulah..


Terasa indahnya..
Untai senyummu yang rekah
Menyusup dalam sukma
Menerang gulita raga
Penebar segala warna akan rasa
Pengobat dari setiap getirnya gulana
Terasa hangatnya..
Bila hati terbuai rasa bernada asmara
Keagungan azimat cinta
Menyentuh relung – relung  jiwa
Terasa sejuknya..
Ketika kata “Aku kan selalu ada”
Menyapa
dengan segala ketulusanmu yang tercipta
dengan segala lembutmu yang kian terasa
Kaulah..
Pembawa bahagia dalam dunia
Melengkap dariku yang tak sempurna
Penghilang segala celah
Antara suka dan duka
Seakan tiada beda..

KAU lah…

*foto : bagi yang punya senyum ini, aq pinjem dulu ya… hehehe

Andai Rinduku Bersambut


Harapku kan setia mengiringi harimu

Menguntai rindu di per detik waktu

Seperti hatiku yang slalu ingin berada dalam payung mata beningmu

Merebah sudah kangenku berlabuh

Dalam dekap lembut sang bayu

Diam tak bergerak dan tersentuh

Seakan terbaring manja dipermadani hatimu

Andai rinduku bersambut

Ku kan tersenyum dan menangis

disudut penuh sujud..

* malam nie bener2 lagi Kaac_caaU ni kepala.. Ya Allah kenapa gak refresh refresh..

Rasa Anak SMP Lugu..


Aku mengenalnya di bangku itu
Bangku pertama pojok pintu
Dengan tatapan malu – malu
Pandanganku tertuju..
Tersungging senyum tanda sapaku
Ia pun tersenyum tersipu
Indah menghias kalbu
Sejuk bagai embun di pagi waktu
Aaaahh lucu…
Rasa bocah yang baru tumbuh
Dari hati seorang Anak SMP lugu
Tiada rekayasa atau hal palsu
Semua dengan tulus tersuguh
Tapi apa rasa itu…??
Pikirku ragu tak menentu
Ini ataukah itu…
.
.
.
*xixixixi Anak SMP perdana mengenal cinta.. Gitchu..

Apa Kau Dapat Artikannya ??


Sejenak kupandang hamparan langit siang tadi
Digubuk tempatmu berteduh dan beristirah diri
Dari terik sang surya yang kian meninggi
Perlahan namun pasti
Kudapati sosokmu menghiasi
Disetiap sisi yang sedari tadi terkunci
Begitu indah
Menguntai mesra di angkasa rasa
Buatku terpana
Seketika gundah menjelma tawa
Bagai telaga nirwana sejukkan pelupuk mata
Kutatap kau dalam seribu bahasa
Dari setiap pandangan yang tercipta
Apa kau dapat artikannya??
Ku coba tulis untai kata dalam tatapan penuh asa
Berharap kataku terdasar niat tulus pada Sang Pemilik Cinta
Apa kini telah kau genggam satu makna perkata??
Indah hadirmu memudarkan beribu Tanya
Terukir dalam hijab lentera
Mengalir dalam pelita
Kasih melambai dilubuk jiwa
Terhaturkan pujian sayang penuh syukur serta do’a
” dari Kamay teruntuk D.I.A, digubuk pelindung terik surya dengan semilir angin yang menerpa “