Kembali Dalam Tanya


Memejam..

Setiap kali raga menyapa
Setiap kali itu raga bertanya akan keikhlasan

Kini..
Disudut ruang itu
Dia berbaring lemah bersembab mata
Menahan..
Bergelut dengan kerontakan yang mengguncang
Dan Raga tak tahan menatap
Ingin raga meminta lemahnya
Namum tak kunjung terasa

Apa ini konsekwensi..
dari sebuah tanya akan keihklasan
atau…
Sebuah jawaban dari setiap sapa ?
“ Sejauh mana kau akan ikhlas “
Seketika membuat raga tertunduk

Kini apa yang kan dilakukan raga tuk dia..

Haruskah raga menyerah..
Tak lagi bertanya akan keikhlasan

Mengharap dia kembali bugar
Tak lagi sembab membingkai mata
Kembali senyum membingkai wajah
Kembali kuat mengemban sisa bulan dari cinta

Raga..
Kembali Dalam Tanya..

Selamat Pagi Cinta (#2)


Bulan ke lima penuh do’a…

Selamat pagi cinta
Salam rasa
lama..
tlah tak kusampaikan dalam sapa
Dalam dekap fajar
yang masih membuta
Dalam rimbun embun
yang belum kehilangan basah
Dalam naung lafal
yang belum hilang terdengar
Kini membuncah dalam kata
Tersampai Cinta
dalam rasa yang masih sama
” Cinta tuk Cinta ”
Rebah tanganku membuka
menyambutmu bersama memeluk dunia
mau kah???

Dariku..
Cinta yang tak sepenuhnya sempurna

KaMay, 9/8/2011

YOUR EYES


Ambigu…
Mungkin itulah yang ku rasakan
saat melihat sinar itu

Ada kolam kedamaian
yang kutemukan di tengah rancah
dunia yang makin membuncah

Ada hangat matahari yang terasa mendekapku
Ditengah dingin hati yang membeku
Ada keindahan nirwana
Yang membuatku terpukau tanpa kedip

Tapi..
Sinar itu juga bagai hutan
belantara tanpa ujung…
Bagai laut tanpa tepi…
Mengurung dan menenggelamkanku di dalamnya

Kini…
Sinar itu menjadi rumahku
Tujuan akhir dalam perjalanan hidupku

 

~ Diana Yanti ~

***

Kehadiran setelah lama vakum langsung berpuisi yang ditampilin hmm… *Plaaakk.. minta maaf kek.. hehehe, vakum kemaren bener2 membekap waktuku hingga gak sempet buat posting 🙂

semoga setelah ini bisa terus posting..

puisi diatas dibuat oleh seseorang kini bener – bener berarti buat hidup…

 

salam

Kamay 🙂

Aku


Aku
Dibalik tanyamu, coba hadir selalu
Namun tak terbaca disetiap waktu
Nyaris tak tersentuh
Aku
Insan kecil penyukamu
Dalam ragu mendekap tubuh
Susah tuk ku ungkap terburu
Semua rasa seakan beku
Kelu lidah membisu
Aku
Tanpa tepian jenuh
Dalam jauh menatap selalu
Ulas senyum tanpa aling palsu
Tersungging elok di parasmu
Aku
Dalam bayang menunggu
Semua kan terjentik sang bayu
Beku takkan lagi beku
Jauh takkan lagi jauh
Terjernih tanpa ragu
Tuk pula kau pandang tanpa semu

Aku
Kan selalu ada untukmu
Ada tuk hatimu
Disudut kota pertama penuh rindu
Q harap kan dapat raih hatimu

 

****

Ahhh.. akhirnya bisa posting juga ditengah waktu padat ini.. bingung ama kerjaan yang gak habis2 hehehe.. mo berucap maaf karena blakangan jarang posting dan BW…

salam..

KaMay..

Kita…


Kita…

Dalam kata terangkai indah

Beratas nama cinta

Beratas nama setia

 

Kita…

Bukan pangeran dan putri raja

di negeri seribu cerita para pecinta

 

Kita…

Bukan romeo dan juliet yang sempurna

dalam drama dalam opera

 

Kita…

Hanya dua insan dilanda rasa

Berbalut iklas dan percaya

Mengaitkannya dipucuk menara bertatal cinta

Meniti impian yang terserak

dan menjadikannya nyata

satu tak terpecah

Mencoba…

Menggores kisah dalam sudut kecil dunia…

Bisikan Itu


Tulisan kali ini kiriman seorang sahabat Prima WKH yang khusus ia tulis teruntuk sosok tua yang ia bangga dan rindukan, menceritakan tentang mbah putri dan saat – saat terkahirnya..
****
Tangan itu tua dan sibuk di peraduannya
Mengepul, tanda pagi telah tiba
Langkah pelan menuju ke peraduan lainnya
Ikhlas dalam dharma dan percaya
Seribu dua ribu itu bermandi rasa syukur
Seribu dua ribu itu penghibur lara hati
Menyejukkan terik matahari sepi
Melembutkan angin debu beradu
Setahun yang lalu kekasihnya tak kembali
Ia lupa rasanya menjadi sepi
Setahun yang lalu pemuda itu kembali
Memeluknya erat, tanpa kata-kata
Aku masih kuat sepertimu
Aku tiada keluh dalam hari-hari
Ia tidak berubah
Keriput itu masih sama
Mata itu masih sama
Yang satu sudah kelam tak bernyawa
Berbisik ditelingaku pilu
bahwa Ia melihatku bangga
Aku berbisik jangan katakan itu
katakan aku akan kembali
Gunung dan lembah luas di antara kita
Siang yang tidak pernah aku lupa
Aku bisikkan padamu
Janganlah melihat kepadanya
Tangan-tangan cahaya yang lembut dan harum
Aku disini , mendengar air matamu
Di sisi telingamu yang masih berdetak
Aku masih kuat sepertimu
dan aku mengerti
***
Teruntuk Supiani, wanita yang memberikan nama kepadaku.
ditulis oleh Prima WKH
****
buat Prima, kuucapkan banyak terima kasih karena dah jadi penulis tamu di blogku.. sungguh tulisanmu mengingatkanku pada beliau..
Menoreh satu dua kata q coba
Sambut goresanmu mengawali rasa
Izinkanku tuk dapat leburkannya
****
Malam ramah tak terjamah
Heningpun seakan beraroma
Bersahut salam dingin menyapa
Berdenyut nadi ke ujung gemigil kata
Hantarkanku mengingat semua
Penggal – penggal cerita
dipilar kisah akannya
Sosok tua ramah dengan senyum iklasnya
Sosok tua yang selalu buatmu bangga
Sosok tua yang buatmu kuat jalani masa
Sosok tua yang tak terlupa
Bagimu
Bagi kita
Bagi semua

 

Tak banyak jumpaku dengannya
Namun cukup buatku berucap bangga
menyebutnya “mbah” dikala jumpa

salamku untuknya
do’aku haturkan padanya
disana…
disisi Sang Pemilik Cinta

***
Teruntuk Prima dan Mbah Putri 🙂
Kamay
****
"Mahasuci Allah Yang di dalam genggaman
     kekuasaan-Nya seluruh kerajaan, dan Dia Mahakuasa
     atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan
     hidup untuk menguji kamu siapakah di antara kamu
     yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya Dia
     Mahamulia lagi Maha Pengampun"
(QS Al-Mulk [67]:1-2)
"Sesungguhnya akhirat itu lebih baik untukmu daripada dunia"
(QS Al-Dhuha [93]: 4)

GILA …


Gila…

Kini menyapa raga

Perlahan rangkaki rangkai syaraf jiwa

Melanda tak terbantah

Layangkan akal ke lembah bawah sadar tanpa tujuan arah

Menghilang  entah kemana

 

Gila..

Kini hanya gelak tawa yang  tersisa

Tanpa Makna

Tanpa Rasa

Tanpa alasan nyata

Dan terdiam seketika

Berbalut wajah menanggung duka

Terisak air mata membasah

Dan  bertanya..

Mengapa???

 

Gila..

Ku akan bayangnya

yang perlahan tlah coba tuk lupa

namun tak kuasa

namun tak bisa